BERBAGI MACAM WARNA YANG MENDEZINEKAN OLEH SUKU WAMENA LEMBAH !!!

Cara ini dipakai saat mau dansa atau pada saat mau perang antara suku lain, diwarnai dengan beberapa di antaraNya yaitu : menghitamkan di wajah dengan membakar alang alang lalu di bakar menjadi debu ditambungkan menjadi satu.

setelah jadikan satu tuangkan air sedikit lalu di tumpuk setelah itu digocok.

kemudian yang warna putih bersegi empat merupakan Gigi babi yang besar.namun dibunuh masak makan selesai cabut gigiNya itu setelah itu diiris jadikan kecil.

setelah itu kasih lobang di hidung manusia kemudian kasih tusuk ikut lobang tersebut.

nah, kalau warna putih titik ini mereka ambil tanah putih yang cocok di Pakai.namun, tak langsung tapi musti campur dengan Cara tertentu yang biasa dorang Pakai.

bulu-bulu yang di Pakai di kepala ini kus hutan namun kita tidak Ketahui namanya karena belum tau namun mereka dijadikan bulu tersebut di Pakai sebagai hiasan.

kemudian yang disebut: panah, dan busur, ini kayu yang berubah busur dan panah. bagemana CaraNya guys 😁 Mari kita ketahui bersama 👇

yang dinamakan panah, adalah kayu namun mereka tebang lalu dipotong setelah itu pelah selesai kupas kecil ketika sudah jadi diikat tali yang kecil juga di Ujung-ujung nah sesudah itu pasang tali juga ukuran yang Sama kecil.

yang dimaksud busur, adalah bambu Sama kayu namun musti di pela kecil-kecilan setelah itu baru dianjam pake tali juga nah kita lihat sudah berubah menjadi busur.

Suku Yali di Lembah Baliem

Lembah Baliem merupakan lembah di pegunungan Jayawijaya. Lembah Baliem berada di ketinggian 1600 meter dari permukaan laut yang dikelilingi pegunungan dengan pemandangannya yang indah dan masih alami. Suhu bisa mencapai 10-15 derajat celcius pada waktu malam.

Lembah ini dikenal juga sebagai grand baliem valley merupakan tempat tinggal suku Dani yang terletak di Desa Wosilimo, 27 km dari WamenaPapua. Selain suku Dani beberapa suku lainnya hidup bertetangga di lembah ini yakni suku Yali dan suku Lani.

Panjang Lembah Baliem adalah sekitar 80 kilometer dan lebar sekitar 20 kilometer dan terletak di ketinggian sekitar 1,600-1,700 m, dengan populasi sekitar 100.000 jiwa.

Penemuan Lembah Baliem dan kehadiran tak terduga dari populasi yang besar pertaniannya ditemukan oleh ekspedisi ketiga zoologi Richard Archbold untuk New Guinea pada tahun 1938. Pada tanggal 21 Juni sebuah selatan penerbangan udara Reconnaissance dari Hollandia (sekarang Jayapura) menemukan apa ekspedisi disebut ‘Grand Valley’.

Secara bertahap kemudian lembah sejak itu telah dibuka terbatas untuk pariwisata yaitu dengan adanya Festival Lembah Baliem.

Meski dihadiri ratusan turis, termasuk dari mancanegara, Festival Lembah Baliem di Wamena, Jayawijaya, Papua, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, karena perselisihan pilkada yang tak kunjung tuntas.

Tak hanya atraksi perang adat, kelompok peserta festival juga menampilkan tarian, nyanyian, dan musik tradisional.

Festival tahunan itu digelar tanggal 7 hingga 9 Agustus 2018 di sebuah tanah lapang di kaki perbukitan Distrik Walesi, Wamena, Jayawijaya, Papua.

Acara ini melibatkan perwakilan 40 distrik dari seluruh Wamena.

Para perwakilan distrik itu berasal dari suku Dani, Lani, dan Yali. Mereka, baik laki-laki dan perempuan, bertelanjang dada.

Para pria mengenakan koteka atau penutup alat kelamin tradisional. Wajah mereka berhias pernak-pernik tradisional seperti taring babi (wamaik) dan kalung yang disebut mikak.

Adapun, kelompok perempuan dari tiga suku itu mengenakan rok tradisional serta berkalung noken.

Skenario perang

Terdapat sejumlah skenario perang, di antaranya perselisihan yang bermula dari penculikan remaja perempuan dan pembunuhan. Perang antara dua suku lalu terjadi, kaum laki-laki saling bertarung dengan panah dan tombak.

Para pria mengenakan koteka atau penutup alat kelamin tradisional. Wajah mereka berhias pernak-pernik tradisional seperti taring babi (wamaik) dan kalung yang disebut mikak.

Beberapa skenario perang berakhir dengan kisah kemenangan dan kekalahan. Namun ada pula yang berujung perdamaian karena para pihak menganggap perang tak dapat menyelesaikan persoalan.

“Kostum mereka sangat indah. Tarian dan atraksinya beragam, setiap suku menampilkan hal yang berbeda,” kata Susan Boxall, turis asal Bristol, Inggris.

Setelah menyaksikan Festival Lembah Baliem untuk pertama kalinya, Susan merasa perjalanan jauh dan melelahkan yang ia tempuh dari kampung halamannya menuju Wamena terbayar.

Susan menghabiskan setidaknya lima hari sejak terbang dari London, transit di Singapura, Makassar, Biak, dan Jayapura.

“Tradisi ini tidak bisa kami lihat di tempat lain di seluruh dunia,” tuturnya.

Tidak semeriah tahun sebelumnya’

Bagaimanapun, ajang tahunan di Lembah Baliem kali ini tak semeriah festival sebelumnya. Pertunjukan adat itu berlangsung sekitar lima jam, selesai sebelum pukul 03.00 WIT.

Kepala Dinas Pariwisata Jayawijaya, Alpius Wetipo, menyebut kisruh pemilihan bupati dan gubernur Juni lalu mempengaruhi penyelenggaraan Festival Lembah Baliem.

Ia berkata, pemerintah sengaja mengurangi perwakilan distrik.

Festival tahunan itu digelar tanggal 7 hingga 9 Agustus 2018 di sebuah tanah lapang di kaki perbukitan Distrik Walesi, Wamena, Jayawijaya, Papua.

Alpius pun mengakui warga lokal yang menyaksikan festival itu tak sebanyak tahun-tahun terdahulu.

“Tahun ini sedikit sepi. Karena tahun politik, semuanya kami diperhitungkan, sengaja digelar lebih singkat,” tuturnya.

Dalam pilkada Jayawijaya 2018, calon tunggal John Banua-Marthin Yogobi berhadapan dengan kotak kosong. Telah diwarnai keributan sejak penetapan peserta pilkada, hari pencoblosan dan pengumuman bupati terpilih di kabupaten itu pun tak lepas dari persoalan.

OK guys inilah beberapa tradisi dan juga atraksi festival yang digunakan suku balien yalimo..

Diterbitkan oleh van berg

Jadilah Orang Baik

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai